Sungguh berbagi krisis manusia modern bersumber dari pengambaian makna dan nilai. Modernisme dengan teknologi yang maju dan industrialisasi yang pesat telah menciptakan peradaban manusia baru yang hampa, karena logika dan orentasinya adalah kerja dan materi telah menjadi gaya dan pandangan hidup hingga gagasan makna hidup hancur. Manusia kemudian sebagai bagian benda mesin yang mati tergiring pada penyamaan dirinya dengan materi dan kemudian mentalitasnya terbelakang mundur. Manusia semakin hanyut terbawa arus deras ke dalam ketidaksakralan dan ketidakperike-manusiaan.
Pada satu sisi, modernitas menghadirkan dapak positif dalam hamper seluruh konstruk kehidupan manusia social, politik dan ekonomi. Namun pada sisi lain, menimbulkan akses negatif yang sangat bias, yang sangat krusial adalah terpinggirkannya manusia dari eksistensinya, terancam kehidupan punah. Manusia modern secara materi mengalami kemajuan yang dahsyat, namun secara rohani, keseluruhan nilai, makna dan tujuan hidup mengalami krisis yang sangat menyedihkan ngeri. Inilah yang kemudian pada kenyataan mengharuskan sebuah gerakan revolusi pembangunan manusia yang utuh dengan menggali kearifan agama, tradisi yang menjajikan mengembalikan manusia pada fitrahnya dan mengembangkan hidup yang berarti dan bermakna.
Dalam konteks ini menegaskan bahwa persoalan masalah besar bagi umat manusia sekarang berada pada TITIK KRISIS KETUHANAN, dan kemudian akhlaq, adab, moral yang mulia menjadi titik proyek cita-cita yang harus diupayakan nyata.


